Percakapan Pendeta
Posted by: Alfian Nugroho - Wednesday, September 23, 2015
Dan sang pendeta itu bertanya-tanya tentang kejanggalan perilaku alam
semesta di sekitarnya yang baru pertama kalinya ia lihat sepanjang hidupnya
Kemudian ia bertanya pada pepohonan; “Kenapa kalian semua berlutut
pada rombongan pedangang dari negeri antah berantah itu? Apakah kalian sebegitu
takutnya pada mereka?”
“Karena kami hanyalah pohon. Dan yang yang bisa kami lakukan hanyalah
memberinya kesejukan dan berlutut jika ia berjalan di depan kami,” jawab salah
satu pohon kurma.
Sang pendeta tidak puas dengan jawaban pepohonan, kemudian ia
bertanya kepada awan gemawan; “Kenapa kalian terus-menerus mengikuti mereka
kemana pun mereka melangkah? Apakah mereka begitu kaya sehingga sanggup membayar
kalian untuk menjadi payungnya sepanjang hari?”
“Karena kami hanyalah awan. Dan yang bisa kami lakukan hanyalah
memberinya perlindungan ketika matahari bersinar terik. Satu hal lagi, anak itu
memang kaya raya, jauh lebih kaya dari raja manapun di dunia ini, meskipun
harta bendanya hanya seberapa. ”
Jawaban awan belum juga memuaskan rasa penasaran sang pendeta. Untuk terakhir
kalinya dia mencoba bertanya pada batu yang sedang ia duduki; “Kenapa hanya kau
yang berperilaku normal sejak kedatangan rombongan pedagang itu?”
Namun batu tetap membisu. Sang pendeta lupa jika selama ini ia tak
pernah mengerti tentang bahasa batu. Dengan pasrah, ia segera bangkit dari
duduknya lalu bergegas menghampiri rombongan pedagang itu. Baru selangkah ia
berjalan, tiba-tiba ia mendengar suara; ”Karena aku hanyalah sebongkah batu,
namun jika aku dilahirkan sebagai manusia sepertimu, aku akan senantiasa bersholawat
untuk anak yang sedang berjalan di samping pamannya itu.”
Izinkan Aku
Posted by: Alfian Nugroho -
Izinkan aku melebur bersama embun
pagi agar kubisa melihatmu ketika kau membuka matamu saat cahaya pertama
matahari muncul
Meski tak nampak di matamu
Aku yakin kau merasakan kesejukannya
ketika embun ini memelukmu
Izinkan aku lenyap bersama semilir
angin agar kubisa meneduhkanmu dengan tiupan lembutku ketika matahari bersinar
terlalu terik
Izinkan aku merasuk ke dalam gelap
malam agar kubisa menjaga mimpi-mimpimu dan menjadi selimutmu ketika kau
memejamkan mata
Karena aku juga yakin jika hal
terindah di dunia ini tak bisa dilihat dengan mata, tapi dengan hati
Bersama Gelap
Posted by: Alfian Nugroho -
Dengan
mencintai gelap
Kita
akan berubah menjadi sepasang batu karang
Tangguh
menerjang gelombang
Dengan
mensyukuri gelap
Kita
akan melebur menjadi sebuah berlian
Cemerlang tiada lawan
Raksasa Pemakan Amarah
Posted by: Alfian Nugroho - Thursday, July 3, 2014
Sebuah negeri
yang indah dan permai tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan makhluk aneh yang
konon dianggap sebagai keturunan raksasa jahat. Walaupun tubuhnya masih
berukuran normal layaknya manusia biasa, namun tampang dan tubuh makhluk itu
sangat buruk rupa. Bau yang sangat tak sedap keluar dari seluruh tubuhnya.
Mulutnya hanya digunakan untuk berkata-kata kotor dan jorok. Ulahnya seringkali
membuat penduduk negeri kesal. Dia selalu mengganggu orang-orang, baik di
jalanan, pasar, dan bahkan di istana kerajaan. Sang raja belum mengetahui
kejadian ini karena sedang pergi ke negeri tetangga.
“Pergi dari sini
kau makhluk menjijikkan!” bentak pengawal kerajaan. Makhluk itu baru saja
memasuki istana tanpa izin. Karena merasa diancam dengan kemarahan pengawal kerajaan,
tiba-tiba tubuh makhluk itu semakin membesar. Bau yang dikeluarkannya semakin
busuk dan perkataannya semakin kotor dan jorok.
“Kalian akan
tahu akibatnya jika memperlakukanku seperti ini, buahaha!” makhluk itu tertawa
jahat. Dia pergi berlari ke jalanan dengan menyebarkan bau tak sedapnya dan
mengumpat sekeras mungkin. Makhluk itu kemudian berhenti di alun-alun kota
sambil terus mengganggu orang di sekitarnya.
“Jika kau tidak segera
pergi dari negeri ini sekarang juga, kami akan mengusirmu dengan kekerasan!” kata
salah satu penduduk kota. Banyak sekali orang yang berkumpul di sekitar
alun-alun untuk mengusir makhluk itu. Mereka semua telah diliputi oleh
kemarahan.
“Buahahahaha!!”
makhluk itu hanya tertawa.
Dia tidak merasa
ketakutan melainkan malah merasa kesenangan dengan amarah penduduk kota.
Tubuhnya semakin membesar dan berubah menjadi raksasa jahat sesungguhnya. Bau
busuknya menyebar ke segala penjuru kota.
Kejadian ini tidak hanya membuat gempar
negeri itu saja. Kabar ini dengan cepat menyebar ke negeri tetangga di mana
sang raja berada. Mendengar kabar ini, dengan sigap raja segera berangkat
pulang ke negerinya. Sesampainya di istana, sang raja langsung menuju tempat
raksasa berada.
“Hei sobat,
kenapa di siang hari yang terik ini kau berpanas-panasan di jalan? Lebih baik kau
ikut aku ke istana untuk menikmati es krim bersama,” kata raja dengan
tersenyum.
Raksasa itu
bingung dengan sikap yang ditunjukkan sang raja kepadanya. Tidak pernah dia
merasa dihargai seperti ini. Dia hanya menganggukan kepalanya tanpa sanggup
mengucapkan satu patah katapun.
Penduduk dan
para pengawal melihat tubuh raksasa itu sedikit mengecil sejak diperlakukan
dengan sopan oleh sang raja. Bau yang dikeluarkannya juga tak seburuk awalnya.
Tak sedikit juga penduduk yang ikut mengantarnya ke istana kerajaan.
“Kebun buahku
baru saja panen. Aku mempunyai anggur, apel, jeruk dan buah-buahan lainnya yang
masih sangat segar. Maukah kau memakannya?” kata salah satu penduduk.
“Bawa saja ke sini!”
kata raksasa itu.
“Tuan, kau harus
mencoba pizza buatanku. Aku adalah pembuat
pizza yang paling terkenal di negeri
ini,” seseorang menawarkannya kebaikan lagi.
Tanpa disadari,
tubuh raksasa itu semakin mengecil. Sekarang ukurannya bahkan sama dengan
manusia biasa. Tampaknya semua orang telah menemukan cara untuk mengalahkan
makhluk ini. Mereka sadar bahwa melawan dengan amarah hanya akan membuat
makhluk ini semakin buas dan menakutkan.
“Ayo, kita
berenang dulu di kolam renangku. Kau pasti akan menyukainya!” raja kembali
mengajak makhluk itu bersenang-senang.
“Sepertinya
mengasikan,” sahut makhluk itu.
“Aku akan
menyiapkan jus jeruk dan makanan ringan untuk menemani kalian berenang,” kata
salah satu pelayan kerajaan.
Raja dan makhluk
itu bermain bersama di kolam renang. Berenang di air yang sejuk adalah hal yang
sangat mengasikan ketika cuaca sedang panas seperti ini. Ketika berenang, makhluk
itu tak menyadari bahwa sekarang tubuhnya jauh lebih kecil dari sebelumnya.
Bahkan sekarang, ukuran tubuhnya sama dengan seekor kucing. Setelah selasai berenang,
bau tak sedap yang dikeluarkan dari tubuhnya sudah tak tercium sedikitpun.
“Kau pasti lelah
setelah bermain seharian. Kau bisa tidur dikamarku malam ini. Ranjangnya
disertai dengan kasur yang sangat empuk. Nyaman sekali untuk tidur,” kata sang
raja.
Makhluk itu
mengiyakan saja tawaran dari sang raja. Dia menganggap betapa bodohnya raja
yang mau menawarkan kebaikan begitu saja kepada makhluk seperti dirinya.
“Besok dia pasti
akan memberikan singgasananya kepadaku. Aku bisa berkuasa di negeri ini! hahaha,”
kata raksasa itu dalam hatinya.
Malam itu dia
tidur di kamar sang raja. Di atas kasur yang nyaman, dia merebahkan tubuhnya
yang hanya seukuran ibu jari manusia. Setiap perkataan, perbuatan, dan pikiran
baik yang ditujukan kepadanya telah membuatnya terus mengecil, berkurang
buruknya, berkurang bau dan kekerasannya.
Dan ketika pagi menjelang, makhluk itu sudah tidak ada di kasurnya. Dia
benar-benar sudah lenyap tak berbekas.
Suara Merdeka, 22 Juni 2014
Keindahan Sejati
Posted by: Alfian Nugroho - Monday, April 28, 2014
Sinar
matahari yang cerah menerangi sebuah taman yang indah. Semua penduduk taman itu
adalah makhluk yang sangat mencintai kedamaian kecuali kedua makhluk ini.
Konon, mereka berdua sudah saling bermusuhan sejak zaman dahulu. Mereka berdua
adalah bunga dan kupu-kupu. Setiap kali mereka bertemu pasti terjadi
pertengkaran hebat. Masing-masing mengaku bahwa dirinyalah makhluk tercantik di
taman ini.
“Kau
tidak akan bisa mengalahkan kecantikanku. Aku bisa bebas terbang kemanapun dan
memperlihatkan kecantikanku ke seluruh dunia!” kata kupu-kupu sombong.
“Jangan
hanya karena mempunyai sayap kau bisa menyombongkan diri. Lihatlah kelopakku!
Semua yang melihatnya pasti terpesona!” sahut si bunga.
“Apa
gunanya kelopak indah jika tidak bisa digerakkan seperti sayapku ini. hahaha,”
sahut kupu-kupu.
“Apa kau melupakan
aromaku? Selain cantik, aku adalah makhluk terharum di dunia ini,” kata bunga
angkuh.
“Alangkah
malangnya kau bunga makhluk tak berhidung! punya aroma keharuman tapi tak dapat
dinikmati sendiri!” jawab kupu-kupu tak mau kalah.
Perdebatan
mereka berlangsung semakin sengit. Makhluk penghuni taman lainnya merasa
semakin terganggu dengan ulah mereka. Tiba-tiba seekor belalang muncul untuk
melerai mereka berdua.
“Kalau
kalian ingin berantem, sebaiknya tinggalkan taman ini! tidak ada gunanya taman
ini indah jika penghuninya saling bertengkar terus seperti kalian!” bentak si
belalang.
Belalang
ini adalah hewan yang berperan sebagai penjaga keamanan di taman ini. Dia tidak
akan segan-segan untuk menghukum siapapun jika kedapatan mengaggu ketentraman. Dengan
wajah cemberut akhirnya mereka menghentikan pertengkaran itu. Kupu-kupu terbang
kembali ke sarangnya untuk beristirahat karena hari sudah menjelang petang.
Namun itu hanya sementara, keesokan paginya mereka kembali saling ejek. Kali
ini bungalah yang memulai duluan.
“Apa
kau tidak ingat dirimu dulu ketika masih berwujud ulat? Kau sangat jelek dan
menjijikan,” ejek bunga. Kupu-kupu yang baru saja tiba di taman pun langsung
merasa tersinggung dengan ucapan bunga.
“Itu
tidak ada hubungannya dengan sekarang, yang penting sekarang aku sudah cantik.
Kecantikan ini akan bertahan lebih lama daripada milikmu yang mungkin sebentar
lagi akan layu dan hilang,” kata kupu-kupu.
Tidak
butuh waktu lama pertengkaran mereka semakin sengit. Mereka berusaha saling
ejek dan menyombongkan dirinya masing-masing. Bahkan setelah berdebat beberapa
lama, salah satu perkataan si bunga sangat menyakiti hati kupu-kupu. Kupu-kupu
sudah kehilangan kesabaran menghadapi omongan si bunga. Dia kemudian bersiap
menyerang bunga dengan menggunakan kekerasan. Bunga pun meyiapkan duri-durinya
sebagai pertahanan dari serangan kupu-kupu. Perkelahian ini akan benar-benar
terjadi karena si belalang yang biasa melerai mereka sedang tidak berada di situ.
Sementara, penghuni taman yang lain juga tidak punya keberanian untuk melerai
mereka yang sudah diliputi penuh oleh amarah.
“Cliiiing..!!”
sesosok makhluk cantik tiba-tiba muncul di antara mereka. Kupu-kupu yang sedang
menerjang pun terhenti ketika menyadari ada makhuk lain di hadapannya. Dia lah
peri taman! Rupanya sangat cantik dengan sayap yang berkilauan. Semut, cacing,
rumput dan semua penghuni taman lainnya terpesona melihatnya.
“Ternyata
dongeng-dongeng itu memang nyata!” ucap semut.
“Dialah
yang diyakini orang-orang zaman dahulu sebagai ratu dari taman ini,” sahut
cacing.
Peri
itu melihat sekitarnya dengan tatapan bagaikan seorang raja melihat rakyatnya.
Dia sungguh mempunyai aura yang sangat berwibawa. Siapapun yang melihatnya
pasti akan menaruh hormat kepadanya.
“Apa
yang terjadi di tamanku ini? pasti ada keributan yang tidak diinginkan sehingga
membuatku bangkit dari peristirahatanku,” kata sang peri.
“Bunga
dan kupu-kupu sedang berkelahi, Ratuku,” ucap salah satu penghuni taman.
Seketika itu juga sang peri langsung menatap bunga dan kupu-kupu. Mereka berdua
sangat ketakutan ketika sang peri memanggilnya untuk mendekat.
“Bungalah
yang memulai pertengkaran dahulu,” ucap kupu-kupu.
“Tapi
dia yang memulai menyerang aku dahulu,” bela si bunga.
Namun
sang peri tidak mengatakan sepatah katapun terhadap mereka berdua. Dia hanya
menatap mereka dalam-dalam untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Kekuatannya sanggup mengetahui bahwa selama ini yang menyebabkan tamannya kacau
adalah mereka berdua. Tidak salah satunya. Kemudian sang peri terbang keatas,
dan menunjukan kekuatan magisnya. Dia mengutuk si bunga agar tidak dapat
berkembang baik jika tanpa bantuan dari kupu-kupu. Sedangkan kupu-kupu dikutuk
tidak akan memakan makanan selain madu dari bunga.
Setelah
kejadian itu, bunga dan kupu-kupu selalu bekerja sama agar dapat bertahan
hidup. Karena seringnya kebersamaan ini, mereka menjadi semakin akrab. Tidak
ada lagi pertengkaran yang yang meresahkan penghuni taman. Dan sekarang muncul
lagi satu keindahan yang bahkan melebihi keindahan fisik mereka berdua.
Keindahan yang disebut dengan persahabatan.
Suara Merdeka, 09 Maret 2014
Yakin
Posted by: Alfian Nugroho - Thursday, January 30, 2014
Hei,
pernahkah kau meragukan apa yang mereka katakan? Tentang indahnya mencintai dan
dicintai? Pernahkah kau membandingkan perasaan itu dengan perasaan ketika kau
masih ceria sebagai seorang bocah yang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya
jatuh cinta?
Kadang
aku merasa ingin sekali seperti Peter
Pan, bocah abadi yang tidak pernah tumbuh menjadi seorang pria dewasa. Yang
hanya dengan berpikir tentang apa yang membuatnya bahagia dia bisa terbang
bebas di angkasa, yang hanya berbakal keyakinan mampu membuat impian seliar
apapun menjadi kenyataan. Menjadikan awan sebagai tempat berteduhnya ketika di
bawah sana terasa panas menyengat. Sebagai pria (yang sedang mencari jatidiri) tak jarang terlintas dipikiranku
untuk kembali lagi ke masa ketika masih bocah. Berharap Peter Pan datang dan
membawaku ke Neverland.
Namun,
siapa yang sanggup melawan waktu?
Setelah
dewasa, aku sadar dia hanya dongeng belaka. Tak lebih dari khayalan seorang
manusia. Namun siapa sangka, dia menghampiriku semalam. Tentu saja dengan
perinya Tinker Bell. Membangunkan tidurku,
kemudian berkata,
“Alfian,
kau bisa merasakan kebahagiaan itu tanpa harus kembali menjadi bocah,”
“Bagaimana
bisa?” jawabku heran.
“Kau
hanya perlu yakin dengan impianmu. Dan dengan cinta sejatimu, kau bisa bahkan
bisa lebih bahagia daripada aku,”
“Aku
tidak percaya dengan cinta se..” tiba-tiba jari telunjuknya ditekankan ke
bibirku untuk membuatku berhenti bicara.
“Jangan
pernah berkata seperti itu, karena jika satu saja orang di dunia ini berkata
demikian maka dalam hidupnya dia tidak pernah mendapatkan cinta sejatinya,”
Tatapan matanya
membuatku yakin akan apa yang dikatakannya. Kemudian dia menjulurkan
kelingkingnya untuk menuntut sebuah janji padaku. Janji bahwa aku tidak akan
kehilangan keyakinan terhadap mimpi-mimpiku. Janji yang membuatku percaya bahwa
di suatu tempat sana, cinta sejatiku sedang setia menungguku. Tidak punya alasan untukku menolaknya. Kilingking kami saling terkait.
Galau yang Merisaukan
Posted by: Alfian Nugroho - Thursday, October 10, 2013
Seberapa lama?
Tak satu orang pun yang tahu
Seberapa sakit?
Hanya jiwa yang merasa
Ketika kau bertanya padanya
Hanya jawaban kenihilan yang kau dapat
Yang berkata tentang kekosongan
Dan diselimuti bayangan kehampaan
Tak satu orang pun yang tahu
Seberapa sakit?
Hanya jiwa yang merasa
Ketika kau bertanya padanya
Hanya jawaban kenihilan yang kau dapat
Yang berkata tentang kekosongan
Dan diselimuti bayangan kehampaan
Belum Berjudul
Posted by: Alfian Nugroho - Monday, September 30, 2013
Cobalah
tanyakan pada burung
Yang
kalian anggap mengerti
Yang
terbang kemanapun
Bertuju
kesejatian
Burung,
sungguh malang nian
Bagai
mengharap api mendinginkan
Bak
memiliki kekosongan
Dengan
sayapnya dia berkata,
“Mengapa
tak kau gunakan hati & jiwamu untuk mencarinya?”
Mencari
kebebasan!
Jogja,
25/09/13
Cinta Harus Memiliki
Posted by: Alfian Nugroho - Tuesday, July 23, 2013
Belakangan
ini sering sekali aku mendengar seseorang yang berkata, “cinta itu tak harus
memiliki”. Mereka inilah teman-temanku yang berkata demikian sebagai bentuk
kepasrahan atas perjuangan cintanya yang tidak mencapai apa yang mereka
harapkan. Tapi, benarkah cinta itu tak harus memiliki? Apakah kita bisa
mencintai Tuhan jika kita tak mengimani suatu agama? Apakah kita sebagai orang
muslim bisa mencintai seorang rosul jika kita tak memiliki Muhammad SAW? Apakah
kita bisa mencintai orang tua kita jika kita tak mempunyai ibu dan ayah?
Mari
kita ulas dulu apa makna “cinta” secara sederhana. Secara umum, istilah “cinta”
menggambarkan adanya dua aksi yang melibatkan dan didukung oleh dua pihak.
Pihak pertama berperan sebagai subjek
dan pihak kedua disebut dengan objek. Adapun
aksi atau tindakan itu didorong oleh suatu kecenderungan untuk “menyatu” dengan
objek. Untuk bisa menyatu dengan objek, subjek harus ,mengetahui sifat atau
hakikat objek. Jadi, pengetahuan mengenai objek menentukan penyatuan subjek
dengan objek. Semakin mendalam pengetahuan subjek, semakin kuat penyatuannya
dengan objek. Ketika kita dapat mengetahui tentang hakikat sebenarnya tentang
Tuhan, kita akan semakin cinta kepada-Nya.
Lalu,
apakah bisa kita sebut dengan cinta jika kedua pihak tersebut saling terpisah?
Hal ini tidak ada bedanya ketika kita mengidolakan seorang artis papan atas
sedangkan kita hanya bisa menontonnya lewat media saja. Walaupun kita tahu dan
paham akan kebiasaannya, hobby-nya,
makanan atau minuman favoritnya kita tidak dapat mengatakan hal ini sebagai
salah satu bentuk cinta. Hanya sekedar bentuk kekaguman semata. Namun akan lain
halnya jika kedua belah pihak saling mengetahui isi hatinya. Dan untuk
mengetahuinya, kita membutuhkan apa yang disebut dengan “cinta” itu sendiri.
Pecayalah
teman, yang namanya cinta sejati itu tak pernah bertepuk sebelah tangan. Jangan
pernah bersedih karena merasa cintamu ditolak. Sesungguhnya kau sama sekali
belum menyentuh cinta itu sendiri. Kau hanya mengaggumi dia. So, Ganbatte!!
Uang Kuliah Tunggal
Posted by: Alfian Nugroho -
Pemerintah melalui Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh akhirnya menetapkan kebijakan
tentang uang kuliah tunggal (UKT) bagi semua mahasiswa baru perguruan tinggi
negeri (PTN). Sebenarnya, Ditjen Dikti Kemendikbud sudah mengusulkan sistem ini
sejak awal 2012 tetapi karena minimnya persiapan dari semua PTN maka akhirnya
harus diundur sampai sekarang. Ketetapan ini tertuang dalam Permendikbud No 55
tahun 2013 dan akan langsung diterapkan pada awal tahun ajaran baru 2013/2014.
UKT
adalah semua besaran biaya kuliah yang harus dibayarkan mahasiswa pada setiap
semesternya. Setelah membayar UKT mahasiswa sudah tidak akan dikenakan biaya
tambahan dalam bentuk apapun. Sebelumnya, kita mengenal dalam biaya pendidikan
dalam PTN terdiri dari berbagai komponen, antara lain sumbangan pengembangan
pendidikan (SPP), praktikum, responsi dan kegiatan perkuliahan lain (PRKP),
sumbangan pengembangan institusi (SPI), dan biaya operasional (BOP). Selain itu
juga sering ditambahkan beberapa biaya tambahan seperti biaya kuliah kuliah
kerja nyata (KKN), praktik lab, wisuda, asuransi dan sebagainya. Dengan UKT
semua biaya kuliah tersebut dijadikan menjadi satu, untuk kemudian dibagi
menjadi 8 dengan anggapan bahwa mahasiswa S-1 akan menyelesaikan studi dalam
kurun waktu 8 semester.
UKT
akan diterapkan untuk semua jalur, baik itu
jalur undangan (SNMPTN), jalur tulis nasional (SBMPTN) maupun jalur
mandiri. Bagi calon mahasiswa dan orangtua/wali, biaya yang dibayar per semesternya
memang terlihat tinggi, namun disisi lain hal ini juga akan meringankan beban
biaya pembayaran yang ditanggungnya pada awal masuk PTN. Komponen SPI dan
sumbangan pengembangan mutu pendidikan (SPMP) yang biasanya dibayar didepan
atau dicicil dua kali, kini akan dibagi menjadi 8. Pemerintah berasumsi bahwa
waktu yang dibutuhkan mahasiswa untuk menyelesaikan studi S-1 adalah selama 8
semester. Sehingga, dalam sistem UKT jika terdapat mahasiswa yang menempuh
studi lebih dari 8 semester maka akan dikenakan kembali besaran cicilan biaya
yang seharusnya berhenti pada semester kedelapan. Langkah ini bisa dinilai
tepat agar mahasiswa terpacu motivasinya untuk menyelesaikan studinya tidak
lebih dari 8 semester.
Bagi PTN, sistem UKT ini
dikhawatirkan akan mengganggu aliran kas (cashflow) pada tahun I sampai
III dikarenakan jumlah penerimaan tiap semester dari mahasiswa juga akan
menurun. Hal ini akan berakibat pada berkurangnya anggaran untuk kegiatan,
termasuk kegiatan kemahasiswaan. Jika Ditjen Dikti bersedia untuk menambah
persentase kucuran dana Bantuan Operasional PTN (BOPTN) yang sekarang
ditetapkan hanya sebesar 12,5% maka akan dapat membantu atau menutupi aliran cash
flow yang terganggu. Namun, dengan catatan mahasiswa dan perguruan tinggi
mampu mendorong pemerintah untuk melakukan transparansi dan menghindari
prosedur administratif yang panjang dan berbelit-belit. Dan, untuk mencegah
kenaikan biaya yang tidak rasional oleh Perguruan Tinggi Negeri (PTN), pemerintah
telah menerbitkan standar UKT untuk tiap jurusan. Standar ini yang akan
digunakan sebagai batasan maksimal UKT yang dapat ditarik oleh PTN.
Cobaan
Posted by: Alfian Nugroho - Monday, July 22, 2013
Pernahkah kau menanyakan tentang keadilan Tuhan? Pertanyaan ini tiba-tiba muncul dalam benakku setelah menonton film yang berjudul “5cm”.
Tentunya
bagi yang sering mendapatkan cobaan hidup ketika pertanyaan ini diajukan dengan
lantangnya mereka akan menjawab “Pernah”. Tidak terecuali dengan saya. Kadang
disaat hidup kita terpuruk karena berbagai cobaan yang mendatangi kita, lantas
yang ada dibenak kita adalah mempertanyakan takdir Tuhan. Bagaimana mungkin
Tuhan yang selama ini kita kenal sebagai Dzat yang Maha Penyayang tak lagi
menyayangi kita? Tuhan yang selama ini kita kenal Maha pengasih tak lagi mencurahkan
kasih sayang-Nya pada kita? Bahkan yang lebih parah lagi ketika sampai berpikir
apakah Tuhan memang ada?
Kita
umpamakan saja dengan saat kita menonton film. Terdapat dua film tentang yang
sama-sama menceritakan tentang perjalanan seseorang yang mendaki gunung. Dalam
film pertama, pendaki mengambil rute yang telah dianjurkan oleh pemandu, yaitu
rute paling aman, paling mudah, dan paling cepat untuk dilewati agar sampai
dipuncak tujuan. Sedangkan film kedua menceritakan tentang seorang pendaki yang
berambisi untuk sampai ke puncak gunung namun karena ketidaktahuannya, dia
malah mengambil rute yang paling berbahaya. Rute itu harus melewati jalan yang
terjal, jurang tak berdasar, hutan yang dipenuhi dengan berbagai binatang buas,
serta cuaca dan iklim yang tidak bersahabat. Namun ada satu persamaaan dalam
kedua film tersebut, yaitu kedua pendakinya sama-sama berhasil sampai ke puncak
pendakiannya. Setelah kamu menonton keduanya, kira-kira manakah film yang lebih
kamu sukai? Bahkan ketika pertanyaan ini ditanyakan pada anak kecil yang baru
pertama kalinya menonton film pasti mereka akan menjawab film kedualah yang
lebih bagus. Dan saya sebagai penggemar film action pasti akan tertidur jika disuruh menonton film yang pertama.
Mungkin Tuhan juga berpikir demikian.
Ketakutan
kita akan cobaan membuat kita selalu waspada. Perjuangan kita menghadapi cobaan
membuat kita semakin kuat. Ikhlas menerima segala cobaan membuat kita semakin
bijak menjalani hidup. Seharusnya jika kita mendapatkan cobaan kita bersyukur
kepada-Nya. Karena dengan kita diuji dengan berbagai cobaan, kita akan merasa
semakin bermaknanya hidup kita ketika telah melewatinya. Memang semua orang
didunia ini akan mati, namun hanya beberapa orang yang benar-benar hidup. Hidup
akan jiwanya, hatinya, dan pikirannya.
Memandang Cinta
Posted by: Alfian Nugroho - Monday, July 1, 2013
18.06.13-22.00
Suatu hari seorang “sahabat” bertanya kepadaku.
Suatu hari seorang “sahabat” bertanya kepadaku.
“Apakah
yang membuat seorang pria tertarik pada seorang wanita?”
Sejenak
kuterdiam. Berusaha menelan pertanyaan tadi, kemudian mencernanya lebih halus
agar bisa masuk ke otakku dan berharap dapat kumuntahkan lagi dalam bentuk
jawaban yang paling bijak. Kali ini aku nggak bakal jawab sembarangan seperti
saat ditanya teman biasanya. Alasannya sekarang yang bertanya adalah perempuan,
makanya sebisa mungkin aku harus menjawabnya dengan penuh pertimbangan. Namun
naas, apa yang terjadi malah sebaliknya. Entah kenapa ketika aku bersamanya aku
nggak bisa bersikap untuk pura-pura menjadi pintar, bijak, ataupun ganteng. #kalo yang terakhir ini, mau digimana2in
emang nggak bakal bisa.hahaha
Jawabanku mengalir begitu saja tanpa minta
izin dari otakku.
“Kalau
menurutku, aku biasa dari mukanya. Kalau mukanya cantik menarik aja untuk dilihat.
Nggak perlu lihat badannya, mau itu langsing, kurus, ataupun gendut.” Ceplosku.
Seolah ditelan
bumi lalu diterjang tsunami, jawabanku cerdasku yang sudah diujung lidah hilang
tak berbekas. Lenyap sudah kesempatanku untuk terlihat pintar didepannya. Apa
boleh buat, setelah kurenungi, jawaban itu nggak ada salahnya juga. Lagipula
dia cuma bertanya tentang ketertarikan. Belum menyangkut kasih sayang atau
cinta.
Lantas,
bagaimana kalo pertanyaan tadi berbunyi:
“Apakah
yang membuat seorang pria jatuh cinta pada seorang wanita?”
Kalau
pertanyaannya seperti ini, dikasih waktu sejam aja belum tentu aku bisa
menjawabnya. Namun yang jelas kita tidak memerlukan mata untuk memandang cinta
kita. Tidak memerlukan hidung untuk menciumnya. Tidak memerlukan telinga untuk
mendengarnya. Tidak memerlukan lidah untuk mengecapnya. Kita tidak memerlukan
indra kita untuk mengenali apa itu cinta. Oleh karena itu, cinta tak hanya
dapat dirasakan oleh kita yang beruntung sudah diberikan alat indra saja.
Bahkan yang tak memiliki satupun pada badannya juga bisa merasakan cinta.
Karena cinta hanya dapat dikenali dengan hati yang tulus.
Jika
sudah waktunya, ia akan datang dengan sendirinya dan tak akan pernah tersesat.
Cinta sejati selalu datang pada orang-orang yang selalu berharap padanya dan
tak pernah berputus asa.
7th June
Posted by: Alfian Nugroho - Wednesday, June 12, 2013
Today
is her birthday. Tepat 21 tahun yang lalu seorang perempuan tercantik yang
pernah aku temui untuk pertama kalinya hadir di dunia ini. Yap, sekarang hari
yang sangat spesial buatnya. Satu hari yang paling ditunggunya dalam setahun
(mungkin)- sok tau :D. Aku disini hanya bisa menebak-nebak bagaimana perayaan
yang sedang dia lakukan bersama keluarganya disana. Yah beginilah nasib, karena
sekarang aku bukan apa-apa kecuali seseorang biasa yang dengan pedenya mengagumi
dan mendambakan seorang bidadari. Bagai pungguk merindukan bulan. Asal tahu
aja, bulannya pun bukan bulan yang biasa mengitari bumi kita melainkan bulan
yang terdapat di galaksi Andromeda, yang berjarak ribuan tahun kecepatan cahaya
disana. Namun bukan berarti aku tak bisa menggapainya. Karena aku percaya
dengan hati yang tulus aku bisa menciptakan sebuah pesawat dengan ribuan kali
kecepatan cahaya untuk menjemputnya disana. Hehe...
Ada
satu keanehan yang tiba-tiba kini berputar-putar di pikiranku. Suatu hal yang
jarang terjadi di jaman sekarang. Entah
kenapa sepertinya dia tak mengharapkan hari ini datang. Aku menduga kalau
sesuatu hal telah terjadi pada saat dia berulang tahun sebelumnya. Mungkin
sesuatu yang dapat membuatnya trauma. Mungkin juga memang karekternya seperti
itu, buat apa merayakan suatu hal yang menambah umur namun disaat bersamaan
menyadari kalau ajal semakin mendekat. Siapa yang bisa melawan waktu. Atau
mungkin juga malah dia mendapatkan sesuatu yang indah tahun lalu kemudian
sekarang kecewa berat karena tidak akan mendapatkannya lagi. Entah itu momen
manis atau kado cantik. Aku lebih yakin pada alasan yang terakhir ini.
Di
tengah hari spesial ini, izinkan aku mengucap satu harapan. Aku berharap supaya
apapun yang selama ini dia harapkan benar-benar bisa terwujud. Cuma itu yang
bisa aku ucapkan, semoga apapun yang diimpikannya dapat membuatnya bahagia, itu
yang terpenting. Percuma saja jika apa yang selama ini kita harapkan malah
tidak membahagiakan kita bukan?
Subscribe to:
Posts (Atom)